1. Lima Alat Ukur Pokok dalam Audit Komunikasi
Ø Survei dengan kuesioner.
Dalam survai yang menggunakan kuesioner perlu diperhatikan benar-benar panjang kuesioner yang dibutuhkan, terutama bila kuesioner harus diisi sendiri oleh responden dan tidak dibacakan oleh pewawancara. Untuk menentukan panjang-pendeknya kuesioner yang dibutuhkan, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut :
1. Rentang kekuasaan organisasi yang dibutuhkan untuk mengisi kuesioner.
2. Jumlah waktu yang tersedia untuk memproses informasi yang terkumpul dari kuesioner itu; dan
3. Kiat khusus, seperti kemungkinan memperkecil huruf sehingga kuesioner tidak terlalu panjang.
Dalam penyusunan kuesioner kerahasiaan dan objektivitas jawaban perlu mendapat perhatian khusus. Artinya, kita mengharapakan jawaban yang objektif dan tidak bias.
Ø Wawancara tatap muka
Wawancara dilakukan sebagai tanya jawab dyadic atau tatap muka perorangan-pertemuan satu pewawancara dengan satu responden. Oleh karena itu kegiatan ini disebut wawancara tatap muka, sekaligus untuk membedakan dengan wawancara lewat telepon. Tujuan utama dari wawancara ini adalah untuk memeriksa, menguji, ataupun melengkapi data yang diperoleh melalui alat-alat ukur lain. Ada dua pedoman wawancara yaitu pedoman wawancara penjajakan (exploratory) digunakan untuk mengumpulkan informasi-informasi penting untuk pengenalan masalah dengan menggunaka pertanyaan-pertanyaan terbuka (open-ended). Pedoman wawancara pendalaman (indepth interview) yang khusus dilakukan untuk membantu tafsiran atas temuan-temuan yang diperoleh melalui alat-alat audit lain. Pedoman wawancara penting untuk menjaga sistematika dan konsistensi perolehan data.
Ø Analisis Jaringan
Analisis jaringan (network analysis) pada dasarnya bertujuan untuk memetakan kegiatan-kegiatan komunikasi yang melibatkan responden dalam organisasi ataupun unit kerjanya-baik secara formal maupun informal. Responden secara khusus diminta menunjukkan sejauh mana dengan intensitas bagaimana ia terlibat dalam komunikasi dengan rekan dalam unit atau departemen tempat kerjanya dan beberapa orang kunci di luar unit atau departemennya didalam jam kerjanya. Dari analisis jaringan ini dapat diperoleh gambaran tentang bagaimana seorang karyawan dapat memperoleh informasi secara efektif untuk menyelesaikan tugasnya dalam jam kerja.
Ø Pengalaman Komunikasi
Analisis pengalaman komunikasi (communication experience) dikenal dengan sebutan teknik peristiwa kritis (critical incident tehnique) dalam analisis pengalaman komunikasi responden diminta menguraikan peristiwa-peristiwa komunikasi (communication episode) yang dapat dianggap sebagai contoh khas (incidents) dari peristiwa komunikasi yang sukses ataupun gagal. Dalam hal ini, ada satu catatan yang perlu diperhatikan. Responden lazimnya cenderung mengingat peristiwa-peristiwa tentang kegagalan komunikasi (ineffective communication) dari pada komunikasi yang sukses (effective communications).dan analisi atas data yang diperoleh melalui teknik ini harus diserahkan pada pengkaji yang sudah berpengalaman agar tidak mudah terkecoh oleh informasi sesaat (bias) atau informasi miring dari para informan atau pelapornya.
Ø Catatan Harian Komunikasi.
Metode buku catatan harian komunikasi hanya cocok untuk organisasi dengan struktur yang kompleks dan jelas. Metode ini tidak lazim untuk responden kategori pekerja (tangan) kasar (blue collar), karena pekerja tangan umumnya tidak menghargai dokumen, sehingga tidak dapat pekerja umumnya tidak menghargai dokumen, sehingga tidak dapat diharapkan mempunyai catatan harian yang cermat.
2. Empat strategi Penanganan krisis (Tactical Approach-Crisis Plan)
a. Mulailah dengan Pendekatan
Rencana krisis dimulai dengan pernyataan perusahaan menguraikan pendekatan manajemen krisis perusahaan, menyediakan dasar keputusan dan perilaku jalan untuk semua tindakan. Laporan akan meringkas filosofi perusahaan dan etika, dan menggambarkan apa perusahaan berencana untuk "melindungi". Ini adalah bagian hati nurani perusahaan.
b. Membangun Reputasi Kuat
Suatu organisasi dengan reputasi yang solid akan bertahan terhadap krisis atau tidak sama sekali. Itu hampir mustahil untuk membangun hubungan dan kredibilitas dengan para pemangku kepentingan di tengah krisis. Ini harus dilakukan ketika keadaan dalam kondisi stabil. Setiap perusahaan dengan pendekatan awal terhadap krisis akan sangat kuat dipengaruhi oleh persepsi pada pelanggan dan masyarakat. Setiap penonton akan melihat catatan anda, dan sebagian besar dapat dan akan diambil dalam hitungan detik dari database yang ada.
c. Buat Tim Krisis
Dibentuknya sebuah tim dalam menangani krisis sangat diperlukan, seseorang harus bertanggung jawab atas krisis yang terjadi dan dalam kebanyakan kasus akan menyita waktu. Orang yang menjadi anggota tim harus yang memiliki eaktu yang cukup lenggang yang bisa menjauh dari tugas sehari-hari dan mengambil kendali dari tim krisis. Pemilihan tim akan sangat penting untuk proses. Perwakilan dari kebijakan utama yang paling dan wilayah operasional diperlukan untuk membawa pemikiran yang sesuai dan manajemen untuk acara tersebut.
d. Membentuk Crisis Center
Ada kebutuhan untuk Pusat Krisis sebgai tempat sarana dalam menangani krisis. Hal ini dapat menjadi ruang konferensi, dilengkapi untuk teknologi komunikasi:
-Terinstal jack untuk saluran telepon.
-Komputer dengan modem untuk mengakses database.
-Fax, video conferencing, dan VCR.
-Satelit televisi, radio, dan layanan kawat.
3. Empat Prinsip Reputasi melalui pendekatan dari sudut pandang dan khalayak yang beragam (multiple perspective stakeholder) menurut Davies (2003), yaitu :
- Prinsip 1. Mempertimbangkan multi stakeholders
Manajemen reputasi korporat merupakan cara bagaimana organisasi seharusnya melakukan pendekatan terhadap masing masing persepsi stakeholders atas reputasi, sekaligus kepada bagaimana menyusun ruang lingkup ini untuk dipergunakan mengelola bisnis secara keseluruhan. Karena kebutuhan dan kepuasan setiap stakeholder yang berbeda-berbeda.
- Prinsip 2. Elemen utama reputasi saling berkaitan
Prinsip ini mengulas bahwa masing masing elemen utama reputasi itu saling interdependensi, saling berkaitan. Tidak bisa disusun terpisah, namun harus menjadi satu kesatuan. Jika satu elemen reputasi dihilangkan, atau tidak masuk dalam keseluruhan indikator reputasi, maka akan mengurangi makna dan substansi reputasi itu sendiri.
- Prinsip 3. Reputasi disusun melalui interaksi yang berjenjang
Ibarat model komunikasi yang berjenjang (two step flow communication). Demikian juga reputasi, bergerak dari yang paling kecil indikator sampai paling tinggi indikatornya. Hal ini membutuhkan rantai (chain) komunikasi yang mampu menghubungkan elemen reputasi yang satu ke lainnya.
- Prinsip 4. Reputasi dapat dinilai dan memiliki nilai
Reputasi bernilai dan dapat dinilai. Hal ini karena reputasi memiliki indikator yang terukur dan dapat dilihat, dapat diakses. Kemampuan organisasi untuk mampu mengoperasionalkan kebutuhan reputasinya, tentu akan membawa penilaian stakeholder lebih jelas terhadap reputasi organisasi tersebut. Misalnya sebuah perusahaan telekomunikasi, menempatkan kepuasan pelanggan sebagai indikator reputasinya. Tentu hal ini harus dijawab dengan sejauh mana konsumen dilayani dengan excellence, sejauh mana konsumen merasa puas dengan fasilitas, puas terhadap pelayanan purna jual dan lain sebagainya.
