BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam menjalin sebuah hubungan dengan orang yang disayangi, manusia hanya bisa merencanakan dan Tuhanlah yang menentukan. Setiap pasangan menghendaki kedekatannya antara satu sama lain, bahkan kalau bisa setiap saat. Namun pada kenyataannya, pacaran jarak jauh (long distance relationship) menjadi suatu alternatif penyelesaian sebuah hubungan, entah karena beda kampus, beda tempat bekerja, tugas kerja dan sebagainya. Pacaran jarak jauh terkadang memunculkan hal-hal tertentu yang tidak akan dialami pada pacaran biasa pada umumnya (tidak pacaran jarak jauh).
Menurut Daniel Taruli Asi Harahap (2008:1) Pacaran adalah proses pengenalan atau latihan kesetiaan. Melalui pertemanan spesial atau pacar kita mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih mendalam teman kita dan Melalui pacaran kita berlatih memfokuskan perhatian dan rasa sayang kepada seseorang. Juga belajar bertanggungjawab kepada orang yang kita sayangi disini terjadilah hubungan interpersonal.
Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajad keterbukaan orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara peserta komunikasi. Miller dalam Explorations in Interpersonal Communication, menyatakan bahwa ”Memahami proses komunikasi interpersonal menuntut hubungan simbiosis antara komunikasi dan perkembangan relasional, dan pada gilirannya (secara serentak), perkembangan relasional mempengaruhi sifat komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut.”
Dalam sebuah hubungan jarak jauh selalu ditandai dengan konflik dan pertentangan. Pertentangan ini mungkin bukan pertentangan yang bersifat fisik dan anarkis. Pertentangan juga bisa berupa situasi dimana dua orang atau lebih memiliki pandangan yang sama sekali berbeda, keinginan-keinginan yang berbeda, atau tujuan-tujuan yang tidak sama dan masing-masing berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka ingini.
Pacaran jarak jauh dalam pertemuan yang jarang disinilah pria atau wanita di uji kesabarannya dan belajar untuk lebih dewasa dalam menanggapi hubungan yang telah mereka bina. Walaupun pria atau wanita susah untuk menjalani hubungan seperti ini, tapi keduanya harus berusaha sekuat perasaan yang mereka miliki terhadap pasangannya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Dasar-Dasar Komunikasi
Pada dasarnya setiap orang memerlukan komunikasi sebagai salah satu alat bantu dalam kelancaran bekerja sama dengan orang lain dalam hal apapun. Komunikasi berbicara tentang cara menyampaikan dan menerima pikiran-pikiran, informasi, perasaan, dan bahkan emosi seseorang, sampai pada titik tercapainya pengertian yang sama antara penyampaian pesan dan penerima pesan.
Secara umum, definisi komunikasi adalah “Sebuah proses penyampainan pikiran-pikran atau informasi dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau informasi”. (Komaruddin, 2000; Schermerhorn, Hunt & Osborn, 2000; Koontz & Weihrich, 2001).
Untuk sampai pada tahap tersebut, diperlukan berbagai pemahan seperti pemanfaatan jenis komunikasi (lisan, tulisan/verbal, nonverbal), menjadi pendengar yang baik (active listener), adanya penghambat proses komunikasi (noise), pemilihan alat penyampaia pikiran atau informasi yang tepat (channel), dan mengenal mengekspresikan perasaan dan emosi.
Selanjutnya definisi tersebut menjadi dasar model proses komunikasi yang berfokus pada pengirim pikiran-pikiran atau informasi (sender/source), saluran yang dipakai (channel) untuk menyampaikan pikiran-pikiran atau informasi, dan penerima pikiran-pikiran atau informasi (receiver). Model tersebut juga akan mengilustrasikan adanya penghambat pikiran-pikiran atau informasi sampai ke penerima (noise), dan umpan balik (feedback) yang memfasilitasi kelancaran komunikasi itu sendiri. Sender, channel, receiver, noise, dan feedback akan dibahas pada subbab berikut.
2.2 Elemen- Elemen Dalam Proses Komunikasi
Komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan oleh penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal itu (Hardjana, 2003).
Model proses komunikasi digambarkan Schermerhorn, Hunt & Osborn sebagai berikut:
Sumber (source) atau kadang disebut juga pengirim pesan adalah orang yang menyampaikan pemikiran atau informasi yang dimilikinya. Pengirim pesan bertanggungjawab dalam menerjemahkan ide atau pemikiran (encoding) menjadi sesuatu yang berarti, dapat berupa pesan verbal, tulisan, dan atau nonverbal, atau kombinasi dari ketiganya. Pesan ini dikomunikasikan melalui saluran (channel) yang sesuai dengan kebutuhan.
Pesan diterima oleh penerima pesan (receiver). Penerima akan menerjemahkan pesan tersebut (decoding) berdasarkan batasan pengertian yang dimilikinya. Dengan demikian dapat saja terjadi kesenjangan antara yang dimaksud olehpengirim pesan dengan yang dimengerti oleh penerima pesan yang disebabkan kemungkinan hadirnya penghambat (noise). Penghambat dalam pengertian ini bisa diakibatkan oleh perbedaan sudut pandang, pengetahuan atau pengalaman, perbedaan budaya, masalah bahasa, dan lainnya.
Pada saat menyampaikan pesan, pengirim perlu memastikan apakah pesan telah diterima dengan baik. Sementara penerima pesan perlu berkonsentrasi agar pesan diterima dengan baik dan memberikan umpan balik (feedback) kepada pengirim. Umpan balik penting sebagai proses klarifikasi untuk memastikan tidak terjadi salah interpretasi.
Dalam menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis yang sering disebut juga dengan pacaran, baik pria maupun wanita dapat berperan sebagai sumber atau pengirim pesan dan penerima pesan secara bergantian. Pria sebagai pengirim pesan, menyampaikan apa yang dirasakan kepada wanita yang dicintainya ataupun menjawab pertanyaan dari wanita. Sementara wanita sebagai pengirim pesan pada saat menjawab ungkapan perasaannya ke pria. Dalam penyampaian ini, pria memastikan wanita memahami apa yang disampaikan.
Sebagai penerima pesan, pria berkonsentrasi dan memperhatikan setiap pertanyaan wanita apa yang dirasakannya. Untuk memastikan apa yang dimaksud oleh wanita, pria sesekali perlu membuat pertanyaan atau pernyataan klarifikasi. Mengingat kesenjangan informasi dan pengetahuan yang ada antara pria dan wanita, pria perlu mengambil peran aktif. Ketika wanita dalam posisi sebgai penerima pesan, pria perlu secara proaktif memastikan apakah wanita benar-benar memahami pesan yang telah disampaikannya.
2.3 Komunikasi Efektif Dalam Hubungan Pacaran
Komunikasi efektif diharapkan dapat mengatasi kendala yang ditimbulkan oleh kedua belah pihak, pria dan wanita (pasangan). Dalam hubungan jarak jauh antara pria dan wanita mengalami pacaran yang berbeda dengan pacaran yang tidak jarak jauh, yang dapat menimbulkan hal yang baik positif (tidak cepat bosan, tidak monoton, memperluas wawasan, mempercepat pendewasaan diri) maupun negatif (cemburu, curiga, rentan perselingkuhan, tidak begitu mengenal pribadi pasangan, boros biaya).
2.4 Penyampaian Informasi Dalam Hubungan
Sebelumnya telah dibahas mengenai komunikasi efektif dalam hubungan pacaran, dan disetiap hubungan pasti mempunyai sebuah informasi untuk menjaga sebuah hubungan jarak jauh maka sebaiknya setiap pasangan satu dengan lainnya harus dapat menjalin hubungan dengan baik (Keep In Touch) dengan memberikan perhatian kecil terhadap pasangan :
a. Mengirimkan sms berisi, “Pagi sayang, sholat subuh dulu yuuk, ntar bobo lagi gpp deh..” atau “Jangan telat maem siang ya, nanti maagnya kambuh loh”, dan sebagainya.
b. Mengirimkan MMS saat Anda tengah berada di suatu tempat yang unik sambil tuliskan pesan, “Hai…kapan2 kita kesini ya, tempatnya asyik!”.
c. Gunakan jaringan internet seperti e-mail dan facebook untuk saling menyapa.
d. Telepon merupakan media yang paling interaktif yang bisa digunakan. Sekedar “Say Hello” bisa dilakukan kapanpun, namun untuk telepon yang membutuhkan waktu lama bisa memilih waktu menelpon pada jam-jam tertentu atau menggunakan operator telepon yang murah untuk hubungan interlokal.
2.5 Hambatan Proses Komunikasi
Tentu tidaklah mudah untuk membuat sebuah komunikasi berjalan dengan menghasilkan kesepakatan secara utuh sesuai tujuannya. Karena, salah satu prinsip dalam berkomunikasi, yakni terdapatnya kesulitan-kesulitan pokok dalam mencapai tujuan. Kesulitan-kesulitan internal ini merupakan hal yang biasa dialami oleh penyampai ide maupun penerimanya.
2.5. 1 Matrik Tujuan Dan Kesulitan Dalam Proses Komunikasi.
a. Mendengar. Kesulitannya : Penerima pesan sulit memusatkan perhatian baik pada kata yang tertulis maupun terucap untuk waktu yang lama. Penerima pesan kurang memiliki perhatian pada apa yang bagi mereka tampak kurang penting.
b. Memahami. Kesulitannya : Penerima pesan memiliki asumsi berdasarkan pengalaman masa lalunya, Penerima pesan sering tidak memahami jenis bahasa yang dipakai pembicara, Penerima pesan lebih mudah salah mengerti saat mereka mendengar tanpa melihat, Penerima pesan sering sudah menarik kesimpulan padahal kita belum selesai bicara.
c. Menyetujui. Kesulitannya : Penerima pesan sering merasa curiga terhadap orang lain yang sedang sedang membujuk mereka, Penerima pesan tidak suka jika dibuktikan bersalah.
d. Bertindak. Kesulitannya : Tidak mudah bagi banyak orang untuk mengubah kebiasaan mereka, Penerima pesan merasa takut akan akibat dari pengambilan tindakan yang keliru, Banyak orang tidak suka mengambil keputusan.
e. Umpan Balik. Kesulitannya : Beberapa orang sering dengan sengaja menyembunyikan reaksi dan apa yang sesungguhnya mereka pikirkan, Penampilan dapat bersifat memperdaya –anggukan kepala, mungkin tidak selalu tanda setuju dan mengerti, karena bisa digunakan untuk menutupi ketidak tahuan atau keragu-raguan.
Namun demikian, yang paling mendasar dalam sebuah kegiatan komunikasi adalah adanya rasa saling percaya. Kalau sudah percaya, biasanya apapun yang dikatakan pastilah diterima. Satu hal lagi, efisiensi. Komunikasi yang efisien dan efektif adalah komunikasi yang tidak membutuhkan upaya besar agar mencapai tujuannya.
2. 6 Tujuan Dan Manfaat Hubungan Komunikasi
Ternyata tujuan berkomunikasi ataupun mengkomunikasikan sesuatu dalam menjalin sebuah hubungan tidaklah mudah, beberapa hal yang harus dikaji seksama dalam mencapai sebuah tujuan hubungan jarak jauh dengan pacar dalam berkomunikasi :
a. Rencanakan Waktu Bertemu. Walaupun terpisah oleh jarak yang jauh, sebagai pasangan harus tetap mengagendakan waktu untuk tetap bertemu dengan orang disayanginya (pacar). Entah itu di momen-momen tertentu seperti hari Ulang Tahunnya, Hari Lebaran atau sekedar menggunakan waktu-waktu libur kalender untuk saling bertemu, syukur-syukur setiap bulan atau setiap 2 minggu sekali. Karena kalau 1 minggu sekali setiap weekend, mungkin akan terbebani oleh biaya pulang-pergi dan sekaligus dengan jeda waktu yang tidak terlalu dekat tersebut, bisa memberikan kesempatan pada pasangan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya di hari sabtu-minggu. Dan terkadang menjemput pacar di stasiun atau bandara akan menjadi sebuah momen yang pasti akan dirindukannya.
b. Dekati Lingkungannya. Untuk membangun chemistry yang lebih kuat antara pasangan cobalah untuk membangun kedekatan dengan lingkungannya, baik lingkungan keluarga maupun teman-temannya. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk membuat ikatan yang lebih erat, sehingga membuat pacar berpikir walaupun berjarak jauh tidak akan pernah merasa dicuekin baginya.
c. Pembarui informasi tempat-tempat menarik dengan pacar. Sebaiknya selalu memperbahrui informasi seputar tempat-tempat wisata, hiburan, cafe yang biasanya dikunjungi bersama pasangan, sehingga akan selalu memberikan hal-hal baru setiap bertemu. Hal-hal baru akan membuat gaya pacaran semakin menarik, tidak monoton dan membosankan, misalnya, tempat makan baru dengan menu unik, cineplex XXI yang baru saja dibuka penayangan filmnya.
2.7 Membangun Sebuah Komunikasi Efektif
Dengan lawan jenis kita atau dengan pasangan yang biasa disebut dengan pacar. Dalam membangun sebuah komunikasi efektif pada hubungan jarak jauh, sesama pasangan kita pastinya jarang sekali waktu untuk bertemu maka dari itu untuk mengembangkan jalinan pada saat bertemu dengan melakakuan hubungan sebagai berikut :
a. Kontak Mata
Hal pertama yang dilakukan seorang pembicara yang baik adalah menatap lawan bicara dan mengambil jeda untuk memulai sebuah pembicaraan. Ini merupakan salah satu cara yang membantu untuk menciptakan kesan baik pada lawan bicara. Usahakan mempertahankan kontak mata sepanjang pembicaraan, agar lawan bicara Anda tak merasa diabaikan.
b. Ekspresi Wajah
Wajah merupakan cermin kepribadian individual. Ekspresi wajah mengungkapkan pikiran yang sedang melintas pada diri seseorang. Sebagai contoh sebuah senyum mengungkap keramah-tamahan dan kasih saying, mengangkat alis mata menunjukan ekpresi heran, mengernyitkan dahi menyampaikan ketakutan dan kegelisahan. Semua emosi dan berbagai macam tingkah manusia diekspresikan dalam emosi yang berbeda yang tergambar di wajah. Jadi saat melakukan komunikasi tunjukan ekspresi bahwa pasangan tertarik dengan bahan pembicaraan.
c. Postur Tubuh
Setiap gerak-gerik tubuh saat berbicara mesti dikoordinasikan dengan kekuatan meyakinkan dari Anda. Mereka bisa jadi semacam tambahan untuk cara efektif yang dapat ditangkap secara visual daripada secara verbal. Sebagai contoh: menundukan kepala menunjukkan penyelesaian pernyataan, mengangkat kepala menunjukkan akhir pertanyaan, terlalu sering menggerakan bagian tubuh mengungkapkan sedang bergegas atau kebingungan. Untuk itu perhatikan gerak-gerik Anda saat melakukan komunikasi dengan lawan bicara.
2. 8 Kerangka Pemikiran
1. Tujuan Komunikasi Efektif, didalam penulisan ini adalah Cognative / Behavior
2. Frekuensi Penyampaian Pesan, dalam menjalin hubungan baik dengan pacar sebanyak 4 (empat) kali, yaitu :
a. Mengirimkan sms berisi, “Pagi sayang, sholat subuh dulu yuuk, ntar bobo lagi gpp deh..” atau “Jangan telat maem siang ya, nanti maagnya kambuh loh”, dan sebagainya.
b. Mengirimkan MMS saat Anda tengah berada di suatu tempat yang unik sambil tuliskan pesan, “Hai…kapan2 kita kesini ya, tempatnya asyik!”.
c. Gunakan jaringan internet seperti e-mail dan facebook untuk saling menyapa.
d. Menelpon untuk menanyakan kabar, bercerita, maupun hanya sekedar say hello dengan pacar.
3. Gradasi Intensitas pesan menggunakan persuade.
4. Tempat Penyampaian Pesan, seperti bertemu atau jalan dengan pacar ke tempat-tempat wisata, cafe maupun bioskop.
5. Waktu Penyampaian Pesan, saat suasana hati pasangan sedang senang seperti pada saat liburan, hari raya, hari ulang tahun maupun pada saat hari jadi dengan pacar.
6. Media yang tepat untuk hubungan jarak jauh maupun dekat adalah menggunakan telepon.
7. Sistem Komunikasi yang digunakan adalah sistem komunikasi interpersonal.
BAB III
KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
Jika kita berbicara tentang komunikas dalam hubungan percintaan, maka akan selalu berhubungan dengan karakter atau sifat dari pasangan dan sifat atau karakter diri sendiri. Sebab sifat ini sangat penting dalam menciptakan kesuksesan dalam menjalin hubungan percintaan. harus bisa mengetahui, mempelajari dan memahami sifat dari pasangan kita. Tidak cukup mengetahui saja, namun juga harus mempelajari dan memahami. Untuk bisa melakukan itu, kamu harus bisa mengetahui, mempelajari dan memahami sifat dari diri sendiri terlebih dahulu (Intropeksi Diri).
Jangan pernah memaksakan sesuatu kepada pasangan, sebab sama saja pria atau wanita bercermin diri sendiri pada saat ketemu memandangnya. Bimbinglah pasangan untuk menjadi diri dia sendiri, sebab setiap orang punya sifat baik dan sifat buruk. Jadi bisa jadi sifat baik dia melengkapi diri pria dan sikap baik wanita yang mengerti untuk melengkapi diri pasangannya.
Sehingga dalam berkomunikasi dengan pasangan jarak jauh supaya hubungan tetap berjalin dengan baik maka perlu berkomunikasi secara baik dan efektif dengan cara :
1. Janganlah malu untuk mengawali, terkadang dengan pasangan sendiri gengsi untuk memulai dalam mengoreksi diri dan mengungkapkanya pada pasangan untuk suatu komitmen yang lebih baik.
2. Janganlah malu untuk meminta maaf, terkadang bisikan ego lebih tinggi untuk menyadari kalau salah satu pasangan ada yang mempunyai salah.
3. Mengalah bukan suatu perbuatan yang hina, namun itu adalah perbuatan pemberani, sebab saat ini jarang sekali orang yang mengalah untuk suatu kebaikan.
4. Batu yang keras bisa hancur karena kesabaran air yang menetes.
5. Menjadi diri sendiri baik pasangan wanita terhadap pria, maupun pria terhadap pasangan wanitanya.
Sehingga dengan pacaran jarak jauh, bisa semakin memperkaya wawasan, setidaknya belajar tentang bagaimana suasana dimana pacar tinggal, Angkutan apa saja bisa pasangan tempuh untuk sampai ke rumahnya, bagaimana kultur dan adat istiadat masyarakat di sana dan keluarganya. Apabila misalnya pacar membutuhkan untuk membawa kendaraan pribadi, setidaknya akan ‘dipaksa’ belajar berani untuk membawanya tempat pacar tinggal, tentunya dengan mempelajari persiapan yang harus dilakukan untuk perjalanan jauh tersebut bersama orang yang dicintai dan sayangi.
DAFTAR PUSTAKA
Cita Cinta, No. 20/X, 11-25 September. 2009
Elfiky, Ibrahim. 2006. Terapi Komunikasi Efektif. Jakarta : Hikmah.
Harahap, Daniel Taruli Asi. 2004. Seribu Pertanyaan Tentang Cinta. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hardjana, A.M. 2003. Komunikasi Intrapersonal & Interpersonal. Kanisius, Jakarta.
Komaruddin. 2000. Ensiklopedia Menejemen. Jakarta : Bumi Aksara
Mulyana, Deddy. 2009. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Schermerhorn, Hunt & Osborn . 2000. Managing Organizational Behavior, 5th ed, John Wiley & Sons, Inc, Canada, pp 562 - 578

No comments:
Post a Comment